Kamis, 02 Februari 2012

Aaaaachh Sayaaang Bingiit....


Cerita - cerita pada bulan September lalu ketika sedang melaksanakan survey dan verifikasi calon lokasi Program PLKSDA-BM di kabupaten Bangkalan :
Seperti rencana yang telah kami sepakati bahwa hari ini (Senin, 12 September 2011), kami mengadakan kunjungan lagi ke kabupaten Bangkalan untuk survey calon lokasi untuk Program PLKSDA – BM. Hanya saja kami berangkat agak siang, sekitar pukul 08.30 WIB karena saya terjebak macet di Mojokerto. Kemacetan disebabkan oleh adanya tabrakan maut antara bis Sumber Kencono dan travel minibus ELF yang menewaskan 20 orang. Akibat kejadian itulah saya tiba di Surabaya sudah agak siang dari rencana. Meskipun demikian, kami tetap semangat menuju kabupaten Bangkalan.

 
Pada kunjungan ke tiga ini kami akan menuntaskan survey calon lokasi program PLKSDA – BM dan pengisian form – form survey yang terkait dengan aspek sumberdaya air, social kemasyarakatan dan ekonomi. Lokasi yang menjadi target survey, menurut proposal yang diajukan adalah desa Glisgis kecamatan Modung. Kalau melihat peta kabupaten Bangkalan, posisi kecamatan Modung berada di selatan kecamatan Blega dan Galis atau timur dari kecamatan Kwanyar, lebih tepatnya posisi desa Glisgis terletak pada perbatasan dengan kecamatan Kwanyar.
 Seperti biasa, kami langsung menuju ke kantor Bapeda untuk menjemput Tim dari Bapeda. Karena masih ada acara pengarahan dari Bank Jatim terkait koperasi maka kami menunggu sejenak para petugas yang biasa survey dengan kami. Pada saat menunggu tersebut kami diajak ngobrol dan berdiskusi dengan Bapak Tri Yanto Yani. Beliau menjelaskan kepada kami tentang beberapa hal, diantaranya perlu adanya keterkaitan antara kondisi tanah, jenis tanah, tanaman dan aspek pasar. Penjelasannya disampaikan dengan sangat antusias walau dapat dikatakan sedikit menggurui kami. Setelah kami lihat di struktur organisasi Bappeda, kami dapat melihat bahwa beliau adalah seorang pejabat di kantor tersebut. Maklum saja seorang kepala bidang ekonomi di Bappeda, dan pantas saja beliau mengatakan bahwa program PLKSDA tersebut harus terkait dengan bidang ekonomi dan menanyakan waktu presentasi hasil survey. Tak terasa diskusi kecil itu memakan waktu sekitar 30 menit dan kami sudah ditunggu Tim survey Bappeda. Personel Bapeda yang ikut dalam survey ini adalah Bpk. Suparno, Bpk. Leo Satan dan Bpk. Saiful Arifin. Kemudian kami berangkat ke kantor Dishutbun untuk menjemput Tim dari sana.
Tim dari Dishutbun sudah siap berangkat, tetapi sebelumnya Ibu Okty menyampaikan satu permasalahan terkait penggunaan lahan di lokasi. Beliau menyampaikan bahwa lahan di desa Kalebun, kecamatan Sepulu, yang boleh ditanami hanya pada tanah yang sementara ini dimanfaatkan warga dan hanya tanaman kelengkeng saja yang boleh ditanam di lahan produktif tersebut, itupun di galengan (pematang). Permasalahan baru inilah yang membuat Tim survey lebih siang berangkat ke lokasi, tetapi itu harus segera dicarikan solusinya. Setelah berdiskusi cukup, kami berangkat ke lokasi karena selain waktu sudah siang, jarak tempuh ke lokasi juga cukup jauh (sekitar 30 – 40 km). Tim yang berangkat dari Dishutbun hanya 2 (dua) orang, yaitu Bpk. Taufik dan Sdr. Azhar.
Segera kami meluncur kearah selatan dari kota Bangkalan. Perjalanan melewati kecamatan Burneh, Tanah Merah dan Galis. Setiba di Tanah Merah, tiba – tiba mobil minggir dan berhenti di depan sebuah warung yang tampak ramai. Ternyata kami diajak makan siang oleh Tim dari Bangkalan di sebuah warung yang bernama Warung Bu Rupa. Menurut keterangan dari Bpk. Taufik, nama dari menu tersebut adalah nasi campur. Saya kurang paham dengan menu sayur tersebut, tetapi tetap saja kami makan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan karena sudah ditunggu oleh Bpk. Eko Purwanto Petugas Kehutanan Lapangan kecamatan Modung di pasar kecamatan Galis. Beliau yang bertugas memandu perjalanan, dan perjalanan belok ke arah selatan kurang lebih 10 km. Kami menuju rumah Kepala Desa (Klebun = bhs Madura) Glisgis Bpk. H. Moch Dhahuri. .
Kami bertemu dengan para perangkat desa (Kepala desa, skretaris desa dan apel – kepala dusun) dan menjelaskan tentang program PLKSDA – BM ini. Diskusi dan Tanya jawab diantara Tim dengan kepala desa mewarnai pertemuan itu, dan setelah dirasa cukup kami langsung menuju lokasi yang diajukan. Calon lokasi program tidak terlalu jauh dari rumah Kepala Desa. Pak Apel (Bpk. Marsu) dan Sekretaris Desa (Bpk. Ilyas) mengantar ke lokasi dan menunjukkan lokasi mana yang diusulkan oleh desa atau petugas. Dalam perjalanan dan diskusi kecil dengan Kepala Desa, kami secara langsung sudah mengidentifikasi bebrapa poin yang menjadi acuan survey. Para perangkat desa itupun langsung menunjukkan lahan dan batas – batasnya yang akan dijadikan lokasi program setelah kami semua tiba dilokasi. Dari keterangan Pak Ilyas (Sekretaris desa), kami cukup terkejut karena luas lahan yang ada hanya sekitar 0,3 – 0,4 hektar.
  Menurut criteria yang ditetapkan dari Dirjen Bangda, sangat jelas sekali lokasi tersebut tidak bias dijadikan lahan program PLKSDA meskipun sebenarnya kondisi lahannya sangat bagus. Di desa Glisgis sebenarnya mempunyai lahan yang bagus untuk ditanami tanaman kayu dan MPTS termasuk tanaman sela. Warna tanahnya merah dan berpasir, banyak dijumpai tanaman kayu yang sangat cocok di wilayah desa itu seperti nangka dan jati. Hanya karena luasnya yang sangat sedikit, maka dengan sangat terpaksa kami membatalkan lahan tersebut tidak masuk ke dalam calon lokasi program.
Perjalanan selanjutnya ke kecamatan Blega untuk menemui kepala desa Blega Oloh dan Nyormanes. Kami bertemu di kantor kecamatan Blega dan yang hadir ternyata hanya dua orang yaitu Kepala desa Blega Oloh dan anggota Badan perwakilan Desa Nyormanes. Pada kesempatan itu kami menjelaskan cara pengisian form survey calon lokasi program dan menjelaskan system pelaksanaan program PLKSDA BM. Penjelasan pengisian form secara detail kami jelaskan dengan gamblang agar tidak ada keselahan. Penjelasan tersebut ditutup dengan acara makan – makan yang ternyata sudah dipesan oleh dua perangkat desa tersebut di warung sate kambing di barat pintu masuk kantor kecamatan Blega. Setelah dirasa cukup jelas atas penjelasan kami dan perut sudah terisi penuh maka kami berpamitan pulang. Rombongan langsung menuju ke Bangkalan dan kami dari Tim Bantek ke Surabaya. Selama dalam perjalanan ada satu hal yang menjadi pemikiran saya, yaitu usulan lahan yang sempit walau sebenarnya sangat subur. Sayang….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar