Cerita
- cerita pada bulan September lalu ketika sedang melaksanakan survey
dan verifikasi calon lokasi Program PLKSDA-BM di kabupaten Bangkalan :
Seperti rencana
yang telah kami sepakati bahwa hari ini (Senin, 12 September 2011), kami
mengadakan kunjungan lagi ke kabupaten Bangkalan untuk survey calon lokasi
untuk Program PLKSDA – BM. Hanya saja kami berangkat agak siang, sekitar pukul
08.30 WIB karena saya terjebak macet di Mojokerto. Kemacetan disebabkan oleh
adanya tabrakan maut antara bis Sumber Kencono dan travel minibus ELF yang
menewaskan 20 orang. Akibat kejadian itulah saya tiba di Surabaya sudah agak siang dari rencana.
Meskipun demikian, kami tetap semangat menuju kabupaten Bangkalan.
Pada kunjungan
ke tiga ini kami akan menuntaskan survey calon lokasi program PLKSDA – BM dan
pengisian form – form survey yang terkait dengan aspek sumberdaya air, social
kemasyarakatan dan ekonomi. Lokasi yang menjadi target survey, menurut proposal
yang diajukan adalah desa Glisgis kecamatan Modung. Kalau melihat peta
kabupaten Bangkalan, posisi kecamatan Modung berada di selatan kecamatan Blega
dan Galis atau timur dari kecamatan Kwanyar, lebih tepatnya posisi desa Glisgis
terletak pada perbatasan dengan kecamatan Kwanyar.
Seperti biasa, kami langsung menuju ke kantor
Bapeda untuk menjemput Tim dari Bapeda. Karena masih ada acara pengarahan dari
Bank Jatim terkait koperasi maka kami menunggu sejenak para petugas yang biasa
survey dengan kami. Pada saat menunggu tersebut kami diajak ngobrol dan
berdiskusi dengan Bapak Tri Yanto Yani. Beliau menjelaskan kepada kami tentang
beberapa hal, diantaranya perlu adanya keterkaitan antara kondisi tanah, jenis
tanah, tanaman dan aspek pasar. Penjelasannya disampaikan dengan sangat
antusias walau dapat dikatakan sedikit menggurui kami. Setelah kami lihat di
struktur organisasi Bappeda, kami dapat melihat bahwa beliau adalah seorang
pejabat di kantor tersebut. Maklum saja seorang kepala bidang ekonomi di
Bappeda, dan pantas saja beliau mengatakan bahwa program PLKSDA tersebut harus
terkait dengan bidang ekonomi dan menanyakan waktu presentasi hasil survey. Tak
terasa diskusi kecil itu memakan waktu sekitar 30 menit dan kami sudah ditunggu
Tim survey Bappeda. Personel Bapeda yang ikut dalam survey ini adalah Bpk.
Suparno, Bpk. Leo Satan dan Bpk. Saiful Arifin. Kemudian kami berangkat ke
kantor Dishutbun untuk menjemput Tim dari sana.
Tim dari
Dishutbun sudah siap berangkat, tetapi sebelumnya Ibu Okty menyampaikan satu
permasalahan terkait penggunaan lahan di lokasi. Beliau menyampaikan bahwa
lahan di desa Kalebun, kecamatan Sepulu, yang boleh ditanami hanya pada tanah
yang sementara ini dimanfaatkan warga dan hanya tanaman kelengkeng saja yang boleh
ditanam di lahan produktif tersebut, itupun di galengan (pematang).
Permasalahan baru inilah yang membuat Tim survey lebih siang berangkat ke
lokasi, tetapi itu harus segera dicarikan solusinya. Setelah berdiskusi cukup,
kami berangkat ke lokasi karena selain waktu sudah siang, jarak tempuh ke
lokasi juga cukup jauh (sekitar 30 – 40 km). Tim yang berangkat dari Dishutbun
hanya 2 (dua) orang, yaitu Bpk. Taufik dan Sdr. Azhar.
Segera kami
meluncur kearah selatan dari kota
Bangkalan. Perjalanan melewati kecamatan Burneh, Tanah Merah dan Galis. Setiba
di Tanah Merah, tiba – tiba mobil minggir dan berhenti di depan sebuah warung
yang tampak ramai. Ternyata kami diajak makan siang oleh Tim dari Bangkalan di
sebuah warung yang bernama Warung Bu Rupa. Menurut keterangan dari Bpk. Taufik,
nama dari menu tersebut adalah nasi campur. Saya kurang paham dengan menu sayur
tersebut, tetapi tetap saja kami makan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan
karena sudah ditunggu oleh Bpk. Eko Purwanto Petugas Kehutanan Lapangan
kecamatan Modung di pasar kecamatan Galis. Beliau yang bertugas memandu
perjalanan, dan perjalanan belok ke arah selatan kurang lebih 10 km. Kami
menuju rumah Kepala Desa (Klebun = bhs Madura) Glisgis Bpk. H. Moch Dhahuri. .
Kami bertemu
dengan para perangkat desa (Kepala desa, skretaris desa dan apel – kepala
dusun) dan menjelaskan tentang program PLKSDA – BM ini. Diskusi dan Tanya jawab
diantara Tim dengan kepala desa mewarnai pertemuan itu, dan setelah dirasa
cukup kami langsung menuju lokasi yang diajukan. Calon lokasi program tidak
terlalu jauh dari rumah Kepala Desa. Pak Apel (Bpk. Marsu) dan Sekretaris Desa
(Bpk. Ilyas) mengantar ke lokasi dan menunjukkan lokasi mana yang diusulkan
oleh desa atau petugas. Dalam perjalanan dan diskusi kecil dengan Kepala Desa,
kami secara langsung sudah mengidentifikasi bebrapa poin yang menjadi acuan
survey. Para perangkat desa itupun langsung
menunjukkan lahan dan batas – batasnya yang akan dijadikan lokasi program
setelah kami semua tiba dilokasi. Dari keterangan Pak Ilyas (Sekretaris desa),
kami cukup terkejut karena luas lahan yang ada hanya sekitar 0,3 – 0,4 hektar.
Menurut
criteria yang ditetapkan dari Dirjen Bangda, sangat jelas sekali lokasi
tersebut tidak bias dijadikan lahan program PLKSDA meskipun sebenarnya kondisi
lahannya sangat bagus. Di desa Glisgis sebenarnya mempunyai lahan yang bagus
untuk ditanami tanaman kayu dan MPTS termasuk tanaman sela. Warna tanahnya
merah dan berpasir, banyak dijumpai tanaman kayu yang sangat cocok di wilayah
desa itu seperti nangka dan jati. Hanya karena luasnya yang sangat sedikit,
maka dengan sangat terpaksa kami membatalkan lahan tersebut tidak masuk ke
dalam calon lokasi program.
Perjalanan
selanjutnya ke kecamatan Blega untuk menemui kepala desa Blega Oloh dan Nyormanes.
Kami bertemu di kantor kecamatan Blega dan yang hadir ternyata hanya dua orang
yaitu Kepala desa Blega Oloh dan anggota Badan perwakilan Desa Nyormanes. Pada
kesempatan itu kami menjelaskan cara pengisian form survey calon lokasi program
dan menjelaskan system pelaksanaan program PLKSDA BM. Penjelasan pengisian form
secara detail kami jelaskan dengan gamblang agar tidak ada keselahan.
Penjelasan tersebut ditutup dengan acara makan – makan yang ternyata sudah
dipesan oleh dua perangkat desa tersebut di warung sate kambing di barat pintu
masuk kantor kecamatan Blega. Setelah dirasa cukup jelas atas penjelasan kami
dan perut sudah terisi penuh maka kami berpamitan pulang. Rombongan langsung
menuju ke Bangkalan dan kami dari Tim Bantek ke Surabaya. Selama dalam perjalanan ada satu hal
yang menjadi pemikiran saya, yaitu usulan lahan
yang sempit walau sebenarnya sangat subur. Sayang….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar