Sedikit
cerita ketika mengadakan survey calon lokasi program Penanganan Lahan
Kritis dan Sumberdaya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) di kabupaten
Bangkalan :
Pagi ini sangat
cerah, matahari bersinar sangat terang meskipun malam hari udara dingin
menyelimuti. Tepat pukul 08.00 WIB, dari Surabaya,
kami Tim Bantek PLKSDA – BM meluncur menuju kabupaten Bangkalan. Kami
merencanakan pelaksanaan survey dan pembahasan kelengkapan administrasi
berlangsung selama 2 (dua) hari. Kunjungan ke kabupaten Bangkalan ini merupakan
kunjungan yang kedua setelah kunjungan yang pertama pada bulan Agustus 2011
lalu. Kunjungan ini bermaksud untuk
melanjutkan survey dan evaluasi kegiatan pada kunjungan pertama.
Pada kunjungan
pertama kami sudah melakukan survey di 3 (tiga) lokasi yaitu di kecamatan Blega
2 (dua) lokasi dan Tanah Merah.
Selain itu, setelah kami evaluasi beberapa syarat administrasi seperti proposal
kegiatan, rencana anggaran biaya, annual work plan, kesiapan lokasi dan lain –
lain masih terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki terutama pada proposal
kegiatan dan annual work plan termasuk rencana anggaran biaya. Dua agenda
itulah yang menjadi target kunjungan ke dua ini, yaitu peninjauan ke calon
lokasi program PLKSDA – BM yang belum disurvey dan perbaikan administrasi.
Seperti
kunjungan sebelumnya, Tim hanya terdiri dari Tenaga Ahli (expert) Bapak Sukimin
dan saya ditambah dengan seorang driver, Nurul
Huda. Meluncur dengan kecepatan sedang, kami menyusuri di kepadatan jalan kota Surabaya karena waktu
– waktu pagi seperti ini jalan – jalan di kota Surabaya dapat dipastikan
penuh dengan kendaraan. Tetapi setelah sampai pada double way ke jembatan
Suramadu, jalan sudah mulai lengang sehingga perjalanan dapat dipercepat.
Jembatan suramadu yang menjadi pintu utama masuk pulau garam dan kabupaten
Bangkalan terlihat sepi, arus kendaraan hanya biasa saja.
Kami langsung
menuju kantor Badan Perencana dan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten
Bangkalan yang terletak disebelah selatan kantor Buapti Bangkalan. Kedatangan
kami disambut oleh Bapak Suparno dan beberapa orang staf di Bappeda. Setelah
berbincang sejenak, kami semua bersama Bapak Suparno, Bapak Samsul Arifin dari
Bappeda meluncur ke Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Bangkalan.
Di kantor Dishutbun kami bertemu Kepala Bidang Pengembangan Produk dan …. Ibu
Ir. Sumarmi, MM. Kami menjelaskan hasil survey yang pertama dan melaporkan
rencana kunjungan kedua ini. Selain itu kami juga menjelaskan kekurangan –
kekurangan pada proposal kegiatan PLKSDA – BM. Setelah selesai mengadakan
diskusi dan pembicaraan dengan Ibu Sumarmi, kami dari Bantek, Bappeda dan
Dishutbun langsung menuju lokasi pertama yaitu desa Kelebun kecamatan Sepulu.
Rombongan terdiri dari 2 (dua) kendaraan, rombongan pertama terdiri dari Tim
bantek dan Tim dari Bapeda (Bpk. Sukimin, Bahrudin K, Bpk. Suparno dan Bpk.
Saiful Arifin) dan rombongan kedua adalah Tim dari Dishutbun (Ibu. Okty, Bpk.
Taufik).
Perjalanan
menuju ke arah utara dari kota
Bangkalan. Untuk sampai di lokasi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam karena
harus melewati kecamatan Arosbaya dan
Klampis. Dari kota
Bangkalan kira – kira 40 km. Setelah
sampai di pasar Sepulu, Pasar Baru Asem Jejer, tepat ditengah pasar ada belokan
ke kanan kalau dari arah Bangkalan. Sekitar 7 km kami sudah tiba di lokasi,
yaitu di desa Kalembun Utara. Di lokasi kami sudah disambut oleh Bapak Kepala
Dusun dan Petugas Kehutanan Lapang (PKL) Bapak Yusuf juga beberapa warga desa
setempat. Panas matahari terasa menyengat di kulit dan cuaca panas sangat kami
rasakan. Daerah yang menjadi calon lokasi program PLKSDA – BM di desa ini
memang sangat kering dan jarang tanaman.
Secara umum
kondisi masyarakat sudah lumayan sejahtera, ini hanya dilihat dari peruamahan
mereka walau banyak yang masih sangat memprihatinkan. Perbedaan inilah yang
banyak kami jumpai disepanjang jalan mulai dari Bangkalan hingga lokasi.
Menurut informasi Bapak Saiful Arifin (Bappeda kabupaten Bangkalan), bahwa
pekerjaan masyarakat pada umumnya pelayar, nelayan dan broker kayu. Banyak juga
yang menjadi tenaga kerja di luar negeri. Sementara itu, masih sangat banyak
masyarakat yang nampaknya berada di bawah garis kemiskinan. Banyak kami jumpai
rumah yang megah dan mewah berdiri kokoh di daerah yang sangat kering tersebut,
meskipun di sampingnya masih banyak rumah – rumah reyot yang sangat perlu untuk
mendapat bantuan. Kondisi yang ironis sekali.
Setelah
menyusuri jalan tanah yang berkelok, kami berhenti pada hamparan tanah tegal
kering. Diantara hamparan tanah kering tersebut ada sebuah lapangan sepak bola
yang cukup luas. Dari kejauhan sekitar 300 meter, terlihat sebuah masjid dan
beberapa bangunan. Ternyata setelah aku mendekat bangunan tersebut adalah
sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pembantu kecamatan Sepuluh di
desa Kalembun dan gedung sekolah Dasar Kelembun 3. Daerah yang Nampak kering
dan sangat jarang sekali tanaman yang membuat hamparan itu hijau. Ditambah lagi
cuaca yang sangat panas dan tiada satupun tanaman teduh di hamparan tersebut.
Kami langsung
mengadakan wawancara dengan perangkat desa Kalebun (Kepala Dusun) dan beberapa
petugas lapangan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Bapak Yusuf). Pertanyaan
sederhana yang kami ajukan kepada mereka, yaitu seputar status kepemilikan,
luas, jenis tanah, tanaman yang diusulkan, sumber air dan sebagainya. Selain
itu kami juga menginventarisir beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar lokasi,
saluran air, perumahan penduduk, tanaman sela yang mungkin dapat dikembangkan.
Semua kami dokumentasi sebagai bahan pertimbangan dan dokumentasi kunjungan
kami ke lokasi. Di lokasi tersebut, petugas dari Dishutbun menyempatkan untuk mengukur luas
calon lokasi program karena untuk penyusunan rencana anggaran (LK – lembar
Kegiatan).
Hasil wawancara
dan investigasi lapang tahap awal adalah status tanah merupakan milik desa,
luas sekitar 4 Ha (yang terhitung menggunakan GPS 3.71 Ha), jenis tanahnya
mediteran, tanaman yang banyak tumbuh antara lain nangka, duwet, bamboo,
pisang, akasia, mahoni, kelapa, jambu mente, jati, mangga. Sementara yang
diusulkan untuk tanaman kayu adalah jati, MPTS kelengkeng dan tanaman selanya
seperti kacang tanah, kacang hijau, jagung. Di lokasi tersebut, kami melihat
terdapat aliran air kecil yang mengalir pada batas antara tanah masyarakat dan
tanah desa sehingga dimungkinkan sumber air masih dapat ditingkatkan volumenya
untuk mengairi calon tanaman yang akan ditanam. Ternyata memang benar, setelah
menelusuri lebih jauh, di dekat lokasi (sekitar 300 m) ada mata air yang sangat
besar dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Memang calon lokasi
program sangat dekat dengan perumahan penduduk, hanya sekitar 50 – 100 meter
saja.
Proses diskusi,
wawancara, identifikasi dan pengukuran awal selesai kami meluncur ke lokasi
kedua yaitu di desa Gengsiyan kecamatan Sepulu juga. Arahnya kira – kira barat
daya dari desa Kelebun dan berjarak sekitar 10 km. Jalan menuju ke desa
tersebut kondisinya banyak yang rusak dan saat itu banyak yang diperbaiki.
Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam karena kondisi jalan yang rusak dan berkelok.
Di desa Gengsiyan kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Gengsiyan dan kami
langsung wawancara awal seperti di daerah lain. Ketika kami menanyakan sumber
air, beliau menjelaskan bahwa di wilayah tersebut sangat sulit untuk
mendapatkan air. Menurut keterangan Bapak Kepala Desa, untuk mendapatkan air,
penduduk harus menggali atau membuat sumur sedalam 120 meter. Sebenarnya semua
criteria sudah terpenuhi, hanya factor cara pemerolehan air yang menjadikan
pertimbangan tersendiri dalam penentuan calon lokasi program sehingga atas
kesepakatan bersama bahwa desa Gengsiyan tidak dimasukkan dalam lokasi program.
Dari Gengsiyan
kami langsung kembali ke Bangkalan. Dalam perjalanan menuju kota Bangkalan kami mampir dulu disebuah
warung makan di kecamatan Klampis. Warung tersebut sebenarnya sederhana dan
masakannya pun tidak terlalu istimewa, tetapi pembelinya sangat ramai. Menunya
juga sederhana saja, hanya nasi rawon dan campur, serta minumannya hanya es
the, es jeruk, jeruk hangat dan minuman botol. Setelah makan kami melanjutkan
perjalanan ke kota Bangkalan untuk mengantar Tim
dari Bapeda sebelum kami meluncur pulang ke Surabaya. Perjalanan menuju Surabaya
dari kota Bangkalan memakan waktu sekitar 2
(dua) jam dan kami tiba di kota
Pahlawan sekitar pukul 17.00 WIB. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan dan
mengesankan….


Tidak ada komentar:
Posting Komentar