Sabtu, 04 Februari 2012

Dapatkah Lahan Kurang Produktif ini Dimanfaatkan..???

Sedikit cerita ketika mengadakan survey calon lokasi program Penanganan Lahan Kritis dan Sumberdaya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) di kabupaten Bangkalan :

Pagi ini sangat cerah, matahari bersinar sangat terang meskipun malam hari udara dingin menyelimuti. Tepat pukul 08.00 WIB, dari Surabaya, kami Tim Bantek PLKSDA – BM meluncur menuju kabupaten Bangkalan. Kami merencanakan pelaksanaan survey dan pembahasan kelengkapan administrasi berlangsung selama 2 (dua) hari. Kunjungan ke kabupaten Bangkalan ini merupakan kunjungan yang kedua setelah kunjungan yang pertama pada bulan Agustus 2011 lalu. Kunjungan  ini bermaksud untuk melanjutkan survey dan evaluasi kegiatan pada kunjungan pertama.

 
Pada kunjungan pertama kami sudah melakukan survey di 3 (tiga) lokasi yaitu di kecamatan Blega 2 (dua) lokasi dan Tanah Merah. Selain itu, setelah kami evaluasi beberapa syarat administrasi seperti proposal kegiatan, rencana anggaran biaya, annual work plan, kesiapan lokasi dan lain – lain masih terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki terutama pada proposal kegiatan dan annual work plan termasuk rencana anggaran biaya. Dua agenda itulah yang menjadi target kunjungan ke dua ini, yaitu peninjauan ke calon lokasi program PLKSDA – BM yang belum disurvey dan perbaikan administrasi.

Seperti kunjungan sebelumnya, Tim hanya terdiri dari Tenaga Ahli (expert) Bapak Sukimin dan saya ditambah dengan seorang driver, Nurul Huda. Meluncur dengan kecepatan sedang, kami menyusuri di kepadatan jalan kota Surabaya karena waktu – waktu pagi seperti ini jalan – jalan di kota Surabaya dapat dipastikan penuh dengan kendaraan. Tetapi setelah sampai pada double way ke jembatan Suramadu, jalan sudah mulai lengang sehingga perjalanan dapat dipercepat. Jembatan suramadu yang menjadi pintu utama masuk pulau garam dan kabupaten Bangkalan terlihat sepi, arus kendaraan hanya biasa saja.
Kami langsung menuju kantor Badan Perencana dan Pembangunan Daerah (Bappeda) kabupaten Bangkalan yang terletak disebelah selatan kantor Buapti Bangkalan. Kedatangan kami disambut oleh Bapak Suparno dan beberapa orang staf di Bappeda. Setelah berbincang sejenak, kami semua bersama Bapak Suparno, Bapak Samsul Arifin dari Bappeda meluncur ke Kantor Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Bangkalan. Di kantor Dishutbun kami bertemu Kepala Bidang Pengembangan Produk dan …. Ibu Ir. Sumarmi, MM. Kami menjelaskan hasil survey yang pertama dan melaporkan rencana kunjungan kedua ini. Selain itu kami juga menjelaskan kekurangan – kekurangan pada proposal kegiatan PLKSDA – BM. Setelah selesai mengadakan diskusi dan pembicaraan dengan Ibu Sumarmi, kami dari Bantek, Bappeda dan Dishutbun langsung menuju lokasi pertama yaitu desa Kelebun kecamatan Sepulu. Rombongan terdiri dari 2 (dua) kendaraan, rombongan pertama terdiri dari Tim bantek dan Tim dari Bapeda (Bpk. Sukimin, Bahrudin K, Bpk. Suparno dan Bpk. Saiful Arifin) dan rombongan kedua adalah Tim dari Dishutbun (Ibu. Okty, Bpk. Taufik).

Perjalanan menuju ke arah utara dari kota Bangkalan. Untuk sampai di lokasi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam karena harus melewati kecamatan  Arosbaya dan Klampis. Dari kota Bangkalan kira –  kira 40 km. Setelah sampai di pasar Sepulu, Pasar Baru Asem Jejer, tepat ditengah pasar ada belokan ke kanan kalau dari arah Bangkalan. Sekitar 7 km kami sudah tiba di lokasi, yaitu di desa Kalembun Utara. Di lokasi kami sudah disambut oleh Bapak Kepala Dusun dan Petugas Kehutanan Lapang (PKL) Bapak Yusuf juga beberapa warga desa setempat. Panas matahari terasa menyengat di kulit dan cuaca panas sangat kami rasakan. Daerah yang menjadi calon lokasi program PLKSDA – BM di desa ini memang sangat kering dan jarang tanaman.
Secara umum kondisi masyarakat sudah lumayan sejahtera, ini hanya dilihat dari peruamahan mereka walau banyak yang masih sangat memprihatinkan. Perbedaan inilah yang banyak kami jumpai disepanjang jalan mulai dari Bangkalan hingga lokasi. Menurut informasi Bapak Saiful Arifin (Bappeda kabupaten Bangkalan), bahwa pekerjaan masyarakat pada umumnya pelayar, nelayan dan broker kayu. Banyak juga yang menjadi tenaga kerja di luar negeri. Sementara itu, masih sangat banyak masyarakat yang nampaknya berada di bawah garis kemiskinan. Banyak kami jumpai rumah yang megah dan mewah berdiri kokoh di daerah yang sangat kering tersebut, meskipun di sampingnya masih banyak rumah – rumah reyot yang sangat perlu untuk mendapat bantuan. Kondisi yang ironis sekali.
Setelah menyusuri jalan tanah yang berkelok, kami berhenti pada hamparan tanah tegal kering. Diantara hamparan tanah kering tersebut ada sebuah lapangan sepak bola yang cukup luas. Dari kejauhan sekitar 300 meter, terlihat sebuah masjid dan beberapa bangunan. Ternyata setelah aku mendekat bangunan tersebut adalah sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pembantu kecamatan Sepuluh di desa Kalembun dan gedung sekolah Dasar Kelembun 3. Daerah yang Nampak kering dan sangat jarang sekali tanaman yang membuat hamparan itu hijau. Ditambah lagi cuaca yang sangat panas dan tiada satupun tanaman teduh di hamparan tersebut.
Kami langsung mengadakan wawancara dengan perangkat desa Kalebun (Kepala Dusun) dan beberapa petugas lapangan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Bapak Yusuf). Pertanyaan sederhana yang kami ajukan kepada mereka, yaitu seputar status kepemilikan, luas, jenis tanah, tanaman yang diusulkan, sumber air dan sebagainya. Selain itu kami juga menginventarisir beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar lokasi, saluran air, perumahan penduduk, tanaman sela yang mungkin dapat dikembangkan. Semua kami dokumentasi sebagai bahan pertimbangan dan dokumentasi kunjungan kami ke lokasi. Di lokasi tersebut, petugas dari  Dishutbun menyempatkan untuk mengukur luas calon lokasi program karena untuk penyusunan rencana anggaran (LK – lembar Kegiatan).
Hasil wawancara dan investigasi lapang tahap awal adalah status tanah merupakan milik desa, luas sekitar 4 Ha (yang terhitung menggunakan GPS 3.71 Ha), jenis tanahnya mediteran, tanaman yang banyak tumbuh antara lain nangka, duwet, bamboo, pisang, akasia, mahoni, kelapa, jambu mente, jati, mangga. Sementara yang diusulkan untuk tanaman kayu adalah jati, MPTS kelengkeng dan tanaman selanya seperti kacang tanah, kacang hijau, jagung. Di lokasi tersebut, kami melihat terdapat aliran air kecil yang mengalir pada batas antara tanah masyarakat dan tanah desa sehingga dimungkinkan sumber air masih dapat ditingkatkan volumenya untuk mengairi calon tanaman yang akan ditanam. Ternyata memang benar, setelah menelusuri lebih jauh, di dekat lokasi (sekitar 300 m) ada mata air yang sangat besar dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Memang calon lokasi program sangat dekat dengan perumahan penduduk, hanya sekitar 50 – 100 meter saja.
Proses diskusi, wawancara, identifikasi dan pengukuran awal selesai kami meluncur ke lokasi kedua yaitu di desa Gengsiyan kecamatan Sepulu juga. Arahnya kira – kira barat daya dari desa Kelebun dan berjarak sekitar 10 km. Jalan menuju ke desa tersebut kondisinya banyak yang rusak dan saat itu banyak yang diperbaiki. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam karena kondisi jalan yang rusak dan berkelok. Di desa Gengsiyan kami disambut oleh Bapak Kepala Desa Gengsiyan dan kami langsung wawancara awal seperti di daerah lain. Ketika kami menanyakan sumber air, beliau menjelaskan bahwa di wilayah tersebut sangat sulit untuk mendapatkan air. Menurut keterangan Bapak Kepala Desa, untuk mendapatkan air, penduduk harus menggali atau membuat sumur sedalam 120 meter. Sebenarnya semua criteria sudah terpenuhi, hanya factor cara pemerolehan air yang menjadikan pertimbangan tersendiri dalam penentuan calon lokasi program sehingga atas kesepakatan bersama bahwa desa Gengsiyan tidak dimasukkan dalam lokasi program.
Dari Gengsiyan kami langsung kembali ke Bangkalan. Dalam perjalanan menuju kota Bangkalan kami mampir dulu disebuah warung makan di kecamatan Klampis. Warung tersebut sebenarnya sederhana dan masakannya pun tidak terlalu istimewa, tetapi pembelinya sangat ramai. Menunya juga sederhana saja, hanya nasi rawon dan campur, serta minumannya hanya es the, es jeruk, jeruk hangat dan minuman botol. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke kota Bangkalan untuk mengantar Tim dari Bapeda sebelum kami meluncur pulang ke Surabaya. Perjalanan menuju Surabaya dari kota Bangkalan memakan waktu sekitar 2 (dua) jam dan kami tiba di kota Pahlawan sekitar pukul 17.00 WIB. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan dan mengesankan….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar